Karir Saya Sangat Lambat Dibanding Teman-teman
Mengapa karir saya sangat lambat dibanding teman-teman saya? Pertanyaan ini kerap muncul di hati. Apakah hal ini wajar atau sinyal tidak bersyukur? Simak konsultasi menarik berikut!
Assalamu’alaikum Wr Wb.
Terima kasih atas waktunya, Ustaz!
Saya ingin bertanya, akhir-akhir ini saya sering merasa tidak tenang ketika melihat kehidupan orang-orang di sekitar saya. Teman-teman yang dulu berjuang bersama, sekarang sebagian sudah memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan yang lebih baik, bahkan ada yang sudah mencapai banyak hal yang dulu hanya menjadi impian. Bahkan saya tidak menyangka bahwa yang berhasil itu, kecerdasan dan kreatifnya jauh di bawah saya.
Sampai saat ini, saya masih berada dalam proses perjuangan. Saya masih berusaha memperbaiki kondisi ekonomi, membangun karier, dan mengejar beberapa target hidup yang belum tercapai. Sebenarnya saya bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada saya saat ini, tetapi terkadang muncul rasa sedih dan bertanya dalam hati, "Mengapa perjalanan hidup saya terasa lebih lambat dibandingkan orang lain?"
Saya takut perasaan seperti ini membuat saya kurang bersyukur kepada Allah. Bagaimana sebaiknya seorang Muslim menyikapi rasa tertinggal, rasa kecewa, dan tetap yakin bahwa Allah telah mengatur jalan terbaik untuk setiap hamba-Nya?
Terima ksih atas pencerahannya, Ustaz!
Wassalam.
Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr Wb.
Terima kasih sudah berbagi cerita. Apa yang Anda rasakan sebenarnya adalah sesuatu yang banyak dialami oleh manusia. Ada masa ketika kita melihat pencapaian orang lain, lalu tanpa sadar mulai membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan mereka.
Kita melihat seseorang sudah berhasil, tetapi kita tidak melihat seluruh perjalanan di balik keberhasilannya. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak tahu berapa banyak doa yang ia panjatkan, berapa banyak kegagalan yang ia lewati, dan berapa banyak ujian yang mungkin sedang ia hadapi.
Dalam kehidupan ini, Allah tidak memberikan jalan yang sama kepada setiap manusia. Ada yang Allah mudahkan lebih cepat, ada yang harus melewati proses yang lebih panjang. Bukan berarti yang lebih cepat lebih dicintai Allah, dan bukan berarti yang masih berjuang sedang dilupakan oleh Allah.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar hati tidak selalu melihat kepada orang yang lebih tinggi dalam urusan dunia, karena hal itu dapat membuat seseorang lupa terhadap nikmat yang sudah Allah berikan. Hadis Rasulullah SAW:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Muslim)
Hadis ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau ingin memperbaiki kehidupan. Seorang Muslim tetap harus berusaha menjadi lebih baik. Namun, hati perlu dijaga agar perjuangan kita tidak berubah menjadi rasa iri dan kekecewaan yang berlebihan.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika perasaan tertinggal mulai muncul.
Pertama, berhenti mengukur kehidupan kita dengan pencapaian orang lain.
Allah menciptakan setiap manusia dengan cerita yang berbeda. Ada orang yang diuji dengan kesulitan sebelum mendapatkan kemudahan. Ada pula yang diuji setelah mendapatkan banyak kenikmatan. Apa yang terlihat baik di mata kita belum tentu seluruhnya mudah bagi orang tersebut. Karena setiap orang memiliki ujian yang tidak selalu terlihat.
Kedua, jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan tekanan.
Ketika melihat orang lain berhasil, cobalah bertanya:
"Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan mereka?" Bukan: "Mengapa saya belum seperti mereka?"
Pertanyaan pertama akan membuat kita tumbuh, sedangkan pertanyaan kedua sering membuat hati lelah.
Ketiga, tetap berikhtiar dan jangan menyerah dengan proses.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Kadang kita merasa sesuatu terlambat, padahal Allah sedang menyiapkan kita. Ada hal yang belum diberikan bukan karena Allah tidak mendengar doa kita, tetapi karena mungkin kita belum berada pada kondisi terbaik untuk menerimanya.
Keempat, latih hati untuk melihat nikmat yang sudah ada.
Sering kali manusia merasa kekurangan bukan karena Allah sedikit memberi, tetapi karena perhatian kita terlalu banyak tertuju pada apa yang belum dimiliki, padahal kesehatan, keluarga, kesempatan belajar, pekerjaan, orang-orang yang menyayangi kita, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri adalah nikmat yang sangat besar. Allah mengingatkan kita melalui firmannya:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Yang perlu diingat, jika hari ini Anda masih berada dalam proses, jangan merasa bahwa hidup Anda tertinggal. Bisa jadi Allah sedang membangun kekuatan, kesabaran, dan kesiapan dalam diri Anda sebelum memberikan sesuatu yang lebih besar. Jangan bandingkan halaman awal hidup Anda dengan halaman tengah hidup orang lain.
Tugas kita bukan mengejar kehidupan orang lain, tetapi memperbaiki kehidupan kita sendiri dan memastikan bahwa setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada Allah. Tetaplah berusaha, tetaplah berdoa, dan tetaplah yakin bahwa Allah memiliki waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Demikian dan semoga bermanfaat.
Wallahu A'lam.
Foto : Magnific