Tokoh-Tokoh Tangguh Dalam Al-Qur’an

Jika kita mampu menceritakan kisah fiksi, karangan maupun dongeng, tentu menjadi pertanyaan besar ketika kita tidak menceritakan kisah di dalam Al-Qur’an yang kebenaran dan hikmahnya sudah terjamin?

Da'i Ambassador

Hampir setiap orang tua memiliki pengalaman menceritakan kisah kepada anaknya di masa kecil. Aktivitas bercerita ini biasanya dilakukan oleh ibu, menjelang waktu tidur atau di saat-saat senggang. Lebih dari sekadar rutinitas, kegiatan ini memiliki berbagai tujuan, mulai dari memberikan hiburan, membantu anak lebih mudah terlelap, hingga menyisipkan pesan-pesan penting yang terkandung dalam cerita tersebut.


Cerita yang disampaikan kepada anak pun sangat beragam. Ada yang berbentuk fiksi, dongeng, atau kisah rekaan, dan ada pula yang bersifat faktual seperti kisah nyata atau sejarah. Jika dilihat secara umum, sebagian besar cerita yang disampaikan oleh ibu kepada anak cenderung berupa fiksi, legenda, atau dongeng yang sarat akan nilai moral dan pelajaran hidup yang bermakna.


Penyampaian pesan moral dan nilai-nilai kebaikan melalui sebuah cerita memiliki dampak yang sangat kuat dan membekas di hati siapa saja, terutama pada anak-anak. Oleh karena itu, kaum muslimin, khususnya para bunda, dianjurkan untuk lebih sering menghadirkan kisah-kisah yang bersumber dari Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi Muhammad SAW dalam proses mendidik anak.


Kisah-kisah dalam Al-Qur’an bersifat autentik dan bukan sekadar fiksi atau dongeng. Setiap cerita di dalamnya mengandung hikmah yang mendalam serta nilai sejarah yang kuat, sehingga berbeda secara prinsip dengan cerita-cerita lain yang umumnya bersifat imajinatif. Kandungan maknanya tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan keimanan pembacanya.


Tulisan ini bertujuan untuk membantu para pembaca, khususnya para bunda, dalam mengenalkan kisah-kisah teladan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Fokus pembahasan tidak mencakup para nabi dan rasul, karena kisah mereka sudah sangat dikenal luas dan mudah ditemukan dalam berbagai sumber bacaan.

Berikut para tokoh teladan (protagonis) yang namanya langsung disebut di dalam Al-Qur’an, diantaranya:


  • Maryam  Binti Imran (disebutkan 33 kali), diantaranya Ali Imran: 35-47.
  • Lukman Al-Hakim (Q.S. Lukman: 12-19)
  • Nabi Uzair AS (Q.S. At-Taubah: 30).
  • Thalut (Q.S. Al-Baqarah: 246-252)
  • Zaid Ibn Haritsah (Q.S. Al-Ahzab: 37)


Tokoh teladan yang namanya tidak disebutkan: 

  • Ashabul Kahfi (Q.S. Al-kahfi: 9-26)
  • Pemilik dua kebun (Q.S. Al-Kahfi: 32-44)
  • Nabi Khidr AS (Q.S. Al-Kahfi: 60-82)
  • Dzul Qarnain (Q.S. Al-Kahfi: 83-98)
  • Istri Fir’aun (Q.S. At-Tahrim: 11)
  • Ashif Ibn barkhiya (Q.S. An-Naml: 40)
  • Ratu Bilqis (Q.S. An-Naml: 20-44).


Pertanyaan yang mungkin timbul, apa hikmah dari kisah di dalam Al-Qur’an yang nama tokohnya langsung disebut dan kisah yang hanya disebutkan tokohnya saja tanpa nama langsung?

Ada hikmah yang jelas di dua pola itu, dan keduanya sengaja dipakai dalam Al-Qur’an dengan tujuan pendidikan yang berbeda.


Pertama, ketika nama tokoh disebut langsung, seperti Nabi Yusuf, Maryam, atau Luqman, itu biasanya untuk memberikan keteladanan yang kuat dan spesifik. Penyebutan nama membuat kisah lebih “nyata”, lebih mudah diingat, dan memberi identitas moral yang jelas: ini contoh orang yang bisa ditiru atau diambil pelajarannya secara langsung. Di sini Al-Qur’an ingin menegaskan bahwa nilai yang dibawa tokoh tersebut melekat pada sosok nyata, sehingga pembaca bisa menelusuri perjalanan hidupnya secara utuh dan mengambil pelajaran yang lebih terarah.


Kedua, ketika kisah tidak menyebut nama tokoh secara langsung, seperti “pemuda dalam gua”, “dua orang laki-laki”, atau “istri Fir’aun”, maka fokusnya bukan pada individunya, tetapi pada pesan dan prinsip yang dibawa. Ini membuat kisah menjadi lebih universal. Siapa pun bisa merasa terlibat di dalamnya, tanpa terikat pada figur tertentu. Hikmahnya adalah agar pesan tidak terbatas pada satu orang atau satu konteks sejarah, tetapi berlaku sepanjang zaman.


Dengan kata lain, penyebutan nama berfungsi untuk keteladanan yang konkret dan personal, sedangkan tanpa penyebutan nama berfungsi untuk generalisasi nilai dan universalitas pesan. Keduanya saling melengkapi, satu memberi contoh nyata, dan yang satunya lagi memberi prinsip yang meluas.


Selain tokoh teladan (protagonis), terdapat juga para tokoh antagonis untuk tidak ditiru, diantaranya:


Yang namanya langsung disebutkan:

  • Haman (Q.S. Al-Qasash: 6-8 dan 38)
  • Qarun (Q.S. Al-Qasash: 76-83)
  • Abu Lahab (Q.S Al-Lahab)
  • Samiri ( Q.S. Toha: 85-98)


Yang tidak langsung disebutkan nama:

  • Penyiksa Ashabul Ukhdud (Q.S. Al-Buruj: 4-8)
  • Namrud (Q.S. Al-Baqarah: 258).
  • Fir’aun (Q.S. Al-Baqarah; 49-57)
  • Istri Abu lahab (Q.S. Al-Lahab)
  • Istri Nabi Nuh dan Istri nabi Luth (Q.S. At-Tahrim: 10).


Jika kita mampu menceritakan kisah fiksi, karangan maupun dongeng, tentu menjadi pertanyaan besar ketika kita tidak menceritakan kisah di dalam Al-Qur’an yang kebenaran dan hikmahnya sudah terjamin?


Wallahu A’lam.
Foto : Magnific

Bagikan Konten Melalui :