Teladan Rasulullah SAW untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur (HUT RI Ke-81)
HUT Kemerdekaan RI tahun ini bertepatan dengan bulan Maulidur Rasul SAW. Adakah kolerasinya? Simak artikel berikut ini!
Agustus selalu menghadirkan suasana yang khas bagi bangsa Indonesia. Merah putih berkibar di berbagai penjuru, lagu-lagu perjuangan kembali terdengar, dan bangsa ini mengenang kemerdekaan yang telah memasuki usia ke-81, tepatnya, 17 Agustus 2026. Tahun ini, suasana tersebut beriringan dengan datangnya bulan Rabiul Awal 1448 H, momentum bagi umat Islam untuk kembali mengingat kelahiran dan keteladanan Rasulullah SAW.
Kemerdekaan Indonesia dan kelahiran Rasulullah SAW. tentu merupakan dua peristiwa dengan latar sejarah yang berbeda. Namun, keduanya dapat dipertemukan dalam satu perenungan, yaitu bagaimana manusia dibebaskan dari penindasan dan bagaimana kehidupan yang bermartabat dibangun setelah kebebasan itu diperoleh.
Tema HUT ke-81 Kemerdekaan RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,”[1] menjadi semakin menarik ketika dibaca melalui keteladanan Rasulullah SAW.Allah SWT. berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا.
“Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar terdapat teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut menjadi dasar penting untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau. Dalam konteks Perang Ahzab, keteladanan itu tampak pada kesabaran, keteguhan, dan keyakinan Rasulullah ketika menghadapi keadaan yang berat.[2]
Oleh karena itu, mengenang Rasulullah seharusnya membawa kita lebih jauh daripada sekadar mengagumi sejarah hidup beliau. Keteladanan itu perlu dihadirkan kembali dalam persoalan kehidupan kita, termasuk dalam membangun Indonesia. Ya paling tidak, ada tiga poin penting mengenai hal ini, yaitu:
Berdaulat, Tidak Dijajah Manusia
Kemerdekaan paling mudah dipahami sebagai terbebasnya suatu bangsa dari kekuasaan bangsa lain. Namun, risalah Rasulullah membawa manusia kepada makna kemerdekaan yang lebih dalam. Tauhid tentunya membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Manusia tidak selayaknya diperbudak oleh harta, kekuasaan, ketakutan, ataupun hawa nafsunya sendiri.
Firman Allah SWT::
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku, keturunan, kekayaan, ataupun kedudukan. Dalam konteks Indonesia, kedaulatan karena itu tidak cukup hanya ditandai dengan terjaganya wilayah dan berdirinya pemerintahan sendiri. Bangsa yang berdaulat membutuhkan manusia yang juga berdaulat secara moral. Apa arti merdeka jika kejujuran masih mudah ditukar dengan kepentingan? Apa arti berdaulat jika pikiran mudah dikuasai kebencian, fanatisme, berita bohong, atau keserakahan? Indonesia yang berdaulat membutuhkan manusia yang merdeka pikirannya, teguh prinsipnya, dan tidak mudah menjual kebenaran.
Adil, Ketika Kebenaran Tidak Mengenal Kawan dan Lawan
Kemerdekaan akan kehilangan maknanya jika tidak menghadirkan keadilan. Simak firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa: 135).
As-Syaikh M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah tersebut menuntut manusia menegakkan keadilan secara sempurna dan sungguh-sungguh. Kepentingan diri, hubungan keluarga, maupun status seseorang tidak boleh menghalangi tegaknya keadilan.[3]
Allah SWT juga berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى.
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8).
Dua ayat ini menutup dua pintu yang sering membuat manusia kehilangan keadilan, yaitu cinta berlebihan kepada kelompok sendiri dan kebencian kepada kelompok lain. Rasulullah SAW juga mengingatkan:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: «تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ».
“Dari Anas r.a., ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim maupun dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami menolongnya jika ia dizalimi. Lalu bagaimana kami menolongnya ketika ia berbuat zalim?” Beliau menjawab, “Engkau mencegahnya dari berbuat zalim.” (HR. Al-Bukhari).
Pesannya jelas! Keberpihakan bukan berarti membenarkan kesalahan orang yang berada di pihak kita. Terkadang, bentuk pembelaan yang paling tulus justru keberanian menghentikannya ketika berbuat salah. Bagi Indonesia yang dibangun di atas keberagaman, prinsip ini menjadi sangat penting. Keadilan tidak boleh berubah hanya karena siapa yang sedang kita hadapi.
Makmur (Kebaikan yang Benar-benar Dirasakan Bersama)
Kemakmuran sering diukur melalui pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan, dan peningkatan pendapatan. Semua itu penting. Namun, Islam mengingatkan bahwa kemakmuran juga mempunyai dimensi sosial. Ingatlah Allah SWT berikut:
كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ.
“…agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7).
Ayat tersebut berbicara dalam konteks pembagian harta fai'. Namun, Syaikhana M. Quraish Shihab melihat di dalamnya prinsip agar kekayaan tidak hanya beredar di lingkungan kelompok tertentu, melainkan dapat memberi manfaat yang lebih luas.[4] Semangat yang sama tampak dalam sabda Rasulullah SAW.:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ».
“Dari Anas r.a., dari Nabi SAW., beliau bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kemakmuran karena itu tidak cukup ditanyakan dengan, “Seberapa banyak kekayaan yang berhasil kita hasilkan?” Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, “Seberapa banyak orang yang ikut merasakan manfaatnya?” Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar. Namun, kekayaan itu baru benar-benar bermakna ketika mampu menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat luas. Kemakmuran tanpa akhlak dapat berubah menjadi kerakusan. Kekayaan tanpa kepedulian dapat melahirkan kesenjangan. Dan pembangunan tanpa keadilan dapat meninggalkan banyak orang di belakang.
Dari Peringatan HUT RI Menuju Keteladanan Rasulullah
Rabiul Awal mengingatkan kita kepada Rasulullah SAW., sementara Agustus mengingatkan kita kepada para pejuang kemerdekaan. Keduanya membawa satu pertanyaan yang sama, apa yang kita lakukan setelah mengenang mereka?
Mencintai Rasulullah tidak cukup berhenti pada peringatan Maulid jika kejujuran, keadilan, amanah, dan kepedulian yang beliau contohkan tidak hadir dalam kehidupan kita. Demikian pula mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengibarkan merah putih jika ketidakjujuran, ketidakadilan, dan kepentingan pribadi masih kita biarkan tumbuh.
Indonesia yang berdaulat membutuhkan manusia yang tidak mudah diperbudak kepentingan.
Indonesia yang adil membutuhkan manusia yang berani berdiri di atas kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak menguntungkan dirinya atau kelompoknya.
Indonesia yang makmur membutuhkan manusia yang tidak merasa cukup ketika dirinya sendiri sejahtera, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan sesamanya.
Di situlah Rabiul Awal dan kemerdekaan menemukan titik pertemuannya, yaitu bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam membangun masa depan Indonesia.
Wallahu A'lam.
Foto : Magnific
[1] Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Kemensetneg Sosialisasikan Implementasi Logo dan Identitas Visual HUT Ke-81 Kemerdekaan RI,” 9 Juli 2026.
[2] Abu al-Fida’ Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tahqiq Sami ibn Muhammad Salamah, cet. 2 (Riyadh: Dar Tayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi‘, 1420 H/1999 M), jil. 6, hlm. 391.
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 2 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), penafsiran QS. An-Nisa [4]: 135.
[4] Ibid.