Munafik Kontemporer
Munafik Kotemporer? istilah zaman ini? apakah ada di zaman ini? Simak penjelasannya melalui artikel berikut!
Salah satu bahaya laten bagi umat islam adalah orang munafik. Menggunting dalam lipatan, musuh dalam selimut dan bermuka dua, bermain dua kaki dan istilah negative lainnya memang sangat layak disematkan untuk golongan ini. Pokoknya, tidak ada celah terhormat bagi orang munafik.
Masih ingat ciri orang munafik yang disampaikan oleh Rasulullah? Begini hadisnya:
عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (آيَةُ الۡمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخۡلَفَ، وَإِذَا اؤۡتُمِنَ خَانَ).
“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda munafik ada tiga: apabila bercerita, dia dusta; apabila berjanji, dia memungkiri; dan apabila diberi amanah, dia khianat.” (HR. Al-Bukhari).
Dalam tulisan ini, penulis kembali mengingatkan betapa jahatnya dampak psikologis yang menimpa Ummul mu’minin, As-Sayyidah Aisyah RA. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah hadis Al-Ifki. Peristiwa ini direkam oleh Al-Quran Surat An-Nur ayat 11 sebagai berikut:
اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ.
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.”
Untuk memudahkan pemahaman terhadap ayat diatas, ada baiknya kita simak tafsir Qur’an Kemenag berikut:[1]
“Berita bohong ini mengenai ‘Aisyah r.a., Ummul Mukminin, setelah perang dengan Bani Mustaliq pada bulan Syakban 5 H. Perang itu diikuti kaum munafik dan turut pula ‘Aisyah r.a. dengan Nabi saw. berdasarkan undian yang diadakan di antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan kembali, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah r.a. keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pun mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah r.a. masih ada dalam sekedup. Setelah ‘Aisyah r.a. mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan berharap sekedup itu akan kembali menjemputnya. Secara kebetulan, seorang sahabat Nabi bernama Safwan bin Mu‘attal lewat di tempat itu dan menemukan seseorang yang sedang tidur sendirian. Safwan terkejut seraya mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, istri Rasul!” ‘Aisyah r.a. terbangun. Lalu, Safwan mempersilakan ‘Aisyah menaiki untanya. Safwan berjalan menuntun unta sampai Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian, kaum munafik membesar-besarkannya. Maka, fitnah atas ‘Aisyah r.a. itu pun bertambah luas sehingga menimbulkan keguncangan di kalangan kaum muslim.”
“Ayat ini mengecam mereka yang tanpa bukti menuduh ‘Aisyah berbuat zina dengan Safwan bin Mu’attal. Sesungguhnya orang-orang yang membawa dan dengan sengaja menyebarluaskan berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu karena kamu dapat membedakan siapa yang munafik dan siapa mukmin sejati. Setiap orang dari mereka yang menyebarkan berita bohong tersebut akan mendapat balasan sesuai kadar dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dari dosa yang diperbuatnya, yakni orang yang menjadi sumber utama berita bohong itu, dia mendapat azab yang besar di akhirat nanti.”
Bayangkan! Orang terhormat seperti Aisyah RA saja menjadi korban hoax dan sangat terganggu. Betapa jahatnya perbuatan kebohongan dan tuduhan tanpa bukti!
Untuk konteks zaman ini, haditsul Ifki banyak bertebaran di media sosial dan terkadang tanpa sadar, kita terlibat didalamnya. Tanpa mengecek kebenaran suatu postingan, baik via WA atau FB, kita turut membantu menyebarkannya.
Perilaku kemunafikan ini banyak dilakukan buzer lapar dan lidah menjulur seperti anjing. Tanpa mempertimbangkan kehormatan orang lain, anjing-anjing lapar ini lebih mementingkan uang! Sudah ribuan narasi hoax yang mereka sebar, baik dalam bentuk postingan meme atau video. Dan bahkan, mereka menyalahkan gunakan kecanggihan teknologi AI untuk menjatuhkan orang atau propaganda! Astagfirullah!
Terhadap isu yang beredar, terutama di kalangan kaum mukminin, kita harus lebih hati-hati dan waspada. Berikut lanjutan ayat diatas:
لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ.
“Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, “Ini adalah (berita) bohong yang nyata?” (Q.S. An-Nur:12).
Seandainya Allah bukanlah Tuhan Yang pemurah, maka pelaku hoax sudah mendapatkan azab secara instan. Termasuk kita yang turut membantu menyebarkannya. Namun, Allah memberikan kesempatan agar pelaku hoax alias Munafik Kotemporer agar segara bertaubat. Berikut pesan Allah:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِيْ مَآ اَفَضْتُمْ فِيْهِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ.
"Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang sangat berat disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang (berita bohong) itu.” (Q.S. An-Nur: 14).
Semoga kita semua lebih waspada dan tidak latah membantu kaum munafikin kontemporer, aamiin.
Wallahu A’lam.
Foto : Freepik
[1] https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/24?from=1&to=64, diakses 11 Maret 2026 pukul 17.20 WIB.