Kurban untuk Mualaf Bali: Dari Singaraja Menjangkau Titik Pembinaan Mualaf Dompet Dhuafa di Bali Barat
Singaraja, Bali — Momentum Hari Raya Iduladha 1447 H menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para mualaf binaan Dompet Dhuafa di Bali
Singaraja, Bali — Momentum Hari Raya Iduladha 1447 H menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para mualaf binaan Dompet Dhuafa di Bali. Melalui Program Tebar Daging Kurban yang diinisiasi oleh PEMULIA Dompet Dhuafa di bawah naungan Cordofa ID Humanity Dompet Dhuafa, satu ekor sapi disembelih di Singaraja untuk kemudian didistribusikan kepada sekitar 100 mualaf yang berada di sejumlah titik pembinaan, yakni Singaraja, Negara, Pulukan, dan Tegalbadeng Timur.
Program ini terlaksana berkat kolaborasi bersama Dompet Dhuafa Bali serta para dai pembina mualaf yang selama ini mendampingi para mualaf dalam proses belajar dan mengamalkan ajaran Islam. Di antaranya adalah Ustadz Ahmad Faris yang membina mualaf di wilayah Tegalbadeng Timur, Ustadzah Nur Rukayah dan Ustadzah Watini di wilayah Pulukan serta Ustadzah Azizah yang aktif mendampingi mualaf di Singaraja.
Bagi sebagian besar masyarakat, daging kurban mungkin menjadi hidangan yang mudah dijumpai setiap Iduladha. Namun bagi sebagian mualaf di Bali, terutama yang tinggal di lingkungan mayoritas non-Muslim, memperoleh makanan yang terjamin kehalalannya masih menjadi tantangan tersendiri.
Di Singaraja misalnya, para mualaf harus lebih berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi makanan sehari-hari agar tidak tercampur dengan bahan yang diharamkan, khususnya babi yang cukup umum ditemukan dalam berbagai sajian masyarakat setempat. Kondisi tersebut menjadikan kehadiran program kurban bukan hanya sekadar bantuan pangan, tetapi juga menghadirkan rasa aman, perhatian, dan kebersamaan bagi para mualaf.

Melihat kondisi tersebut, program pembinaan mualaf yang dilakukan secara rutin menjadi ruang belajar yang berkelanjutab. Para mualaf tidak hanya mendapatkan penguatan akidah, tetapi juga belajar praktik ibadah dasar seperti tata cara salat, bacaan salat, membaca Al-Qur'an, hingga pemahaman keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya sangat bersyukur sekali dengan adanya program pembinaan mualaf ini. Saya jadi bisa belajar banyak hal yang tidak saya dapatkan di tempat lain. Bacaan salat diajarkan dan dilatih sampai bisa. Sampai hewan kurban yang kami rasakan hari ini pun merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pembinaan mualaf. Saya sangat bersyukur," ungkapnya.

Menurutnya, kurban bukan hanya tentang distribusi daging, tetapi juga menjadi sarana memperkuat akidah, menumbuhkan rasa persaudaraan, mengurangi kesenjangan sosial, serta menunjukkan kepedulian nyata kepada saudara-saudara mualaf yang sedang berproses memperdalam ajaran Islam.
Melalui momentum Iduladha ini, diharapkan para mualaf semakin merasakan kehangatan ukhuwah Islamiyah serta mendapatkan dukungan moral dan spiritual untuk terus bertumbuh dalam keislaman mereka. Sebab bagi banyak mualaf di Bali, perjalanan menjadi seorang Muslim tidak berhenti pada pengucapan syahadat, melainkan membutuhkan pendampingan, pembelajaran, dan dukungan yang berkelanjutan dari berbagai pihak.