Keistimewaan Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah RA

Yuk, kita kenal lebih jauh sosok Sayyidah Aisyah RA yang sanagt luar biasa dan menginspirasi kita semua, terutama untuk semua muslimah di sunia, khususnya Indonesia. Simak melalui link berikut!

Da'i Ambassador

Sayyidah Aisyah RA merupakan salah satu dari para istri Rasulullah SAW. Untuk tuliskan kali ini, penulis mengajak para pembaca untuk sejenak mengagumi dan mengambil uswah dan mengetahui sebagian dari banyak keistimewaan beliau.


Aisyah adalah putri Abu Bakar As-Siddiq RA. Ibunya Bernama Ummu Ruman. Nasab dari jalur ayah: Aisyah binti Abi Bakar As-Siddiq bin Abi Quhafah bin Amir bin Umar Bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Fihr bin Malik. Adapun nasab dari jalur ibu adalah: Aisyah Binti Ummi Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Itab bin Udzainah bin Sabi’ bin Wahban bin harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.[1]


Adapun kuniyah dan laqab yang masyhur untuk Aisyah RA adalah Ummul Mu’minin, Al-Humaira, Binti As-Siddiq dan Ummu Abdillah. Orang Arab terbiasa memberikan kuniyah dan laqab kepada seseorang karena kemuliaan dan keistimewaannya.


Aisyah RA lahir di Makkah pada tahun ke-4 kenabian. Beliau dinikahi oleh Rasulullah SAW pada usia 7 tahun. Ketika Rasulullah SAW wafat, beliau berusia 18 tahun.[2] Beliau wafat pada tahun 57 atau 58 H pada malam 17 Ramadhan. Dimakamkan setelah shalat witir di Baqi’. Jenazah beliau dishalatkan oleh beberapa sahabat terkemuka yang juga menjadi murid beliau diantaranya adalah Abu Hurairah RA.[3]


Diantara keistimewaan Aisyah RA adalah:


Termasuk guru diantara para sahabat dan memiliki ilmu yang sangat luas.

Dikutip dalam kitab Al-Ishabah karya Ibn Hajar Al-Asqallani:


وقال هشام بن عروة، عن أبيه: ما رأيت أحدًا أعلم بفقه ولا طب ولا شعر من عائشة. وقال أبو بردة بن أبي موسى، عن أبيه: ما أشكل علينا أمر فسألنا عنه عائشة إلا وجدنا عندها فيه علمًا.وقال الزهري: لو جمع علم عائشة إلى علم جميع أمهات المؤمنين وعلم جميع النساء لكان علم عائشة أفضل. وأسند الزبير بن بكار عن أبي الزناد، قال: ما رأيت أحدًا أروى لشعر من عروة، فقيل له: ما أرواك! فقال: ما روايتي في رواية عائشة؟ ما كان ينزل بها شيء إلا أنشدت فيه شعرًا.[4]


“Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya, Urwah bin Zubair, bahwa ia belum pernah melihat seseorang yang lebih luas ilmunya daripada Aisyah RA, baik dalam bidang fikih, pengobatan, maupun syair. Abu Musa al-Asy’ari juga menjelaskan bahwa setiap kali para sahabat menghadapi persoalan yang sulit dan menanyakannya kepada Aisyah, mereka selalu mendapatkan penjelasan dari beliau. Begitu pula Imam az-Zuhri yang menyatakan bahwa apabila ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh istri Nabi Muhammad SAW dan seluruh kaum perempuan, maka ilmu Aisyah tetap lebih unggul. Selain memiliki pengetahuan agama yang luas, Aisyah juga sangat menguasai syair Arab. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh az-Zubair bin Bakkar dari Abu az-Zinad, yang menyebutkan bahwa Urwah bin Zubair dikenal sebagai orang yang sangat banyak menghafal dan meriwayatkan syair. Namun, ketika kemampuan tersebut dipuji, Urwah justru mengatakan bahwa pengetahuannya tentang syair tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Aisyah. Menurutnya, setiap kali Aisyah menghadapi suatu peristiwa, beliau selalu mampu membacakan bait-bait syair yang sesuai dengan keadaan tersebut.”


Termasuk perawi hadis terbayak di kalangan sahabat, khususnya kalangan sahabat Wanita.

Dikuti dalam kitab As-Siyar oleh Adz-Zahabi sebagai berikut:


مسند عائشة يبلغ ألفين ومائتين وعشرة أحاديث. اتفق لها البخاري ومسلم على مائة وأربعة وسبعين حديثًا، وانفرد البخاري بأربعة وخمسين، وانفرد مسلم بتسعة وستين.[5]


“Jumlah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA mencapai 2.210 hadis. Dari jumlah tersebut, terdapat 174 hadis yang sama-sama diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih masing-masing. Selain itu, terdapat 54 hadis yang diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam al-Bukhari dan 69 hadis yang diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Muslim.”


Diberi salam langsung oleh Jibril AS

Dalam satu hadis disebutkan:


قَالَ أَبُو سَلَمَةَ إِنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ SAW يَوْمًا " يَا عَائِشَ، هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ ". فَقُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، تَرَى مَا لاَ أَرَى. تُرِيدُ رَسُولَ اللَّهِ.


"Abu Salamah meriwayatkan bahwa Aisyah RA pernah menceritakan, suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Mendengar hal tersebut, Aisyah menjawab, “Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepadanya.” Kemudian Aisyah berkata kepada Rasulullah SAW, “Engkau dapat melihat sesuatu yang tidak dapat aku lihat.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibn Majah, Ad-Darimi dan Ahmad).


Mengenai hadis di atas, Al-Imam Nawawi berkomentar sebagai berikut:


قوله صلى الله عليه وسلم لعائشة رضي الله عنها : ( إن جبريل يقرأ عليك السلام قالت : فقلت : وعليه السلام ورحمة الله ) فيه فضيلة ظاهرة لعائشة رضي الله عنها ، وفيه استحباب بعث السلام ، ويجب على الرسول تبليغه . وفيه بعث الأجنبي السلام إلى الأجنبية الصالحة إذا لم يخف ترتب مفسدة ، وأن الذي يبلغه السلام يرد عليه .


قال أصحابنا : وهذا الرد واجب على الفور ، وكذا لو بلغه سلام في ورقة من غائب لزمه أن يرد السلام عليه باللفظ على الفور إذا قرأه . وفيه أنه يستحب في الرد أن يقول : وعليك أو وعليكم السلام بالواو ، فلو قال : عليكم السلام أو عليكم أجزأه على الصحيح ، وكان تاركا للأفضل ، وقال بعض أصحابنا : لا يجزئه ، وسبقت مسائل السلام في بابه مستوفاة .[6]


“Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa sabda Rasulullah SAWkepada Aisyah RA, “Sesungguhnya Jibril menyampaikan salam kepadamu,” kemudian Aisyah menjawab, “Semoga keselamatan dan rahmat Allah juga tercurah kepadanya,” menunjukkan adanya keutamaan yang nyata pada diri Aisyah RA. Hadis ini juga mengajarkan bahwa mengirimkan salam melalui perantara orang lain merupakan perbuatan yang dianjurkan, sedangkan orang yang dititipi salam wajib menyampaikannya. Selain itu, hadis ini menunjukkan bahwa seorang laki-laki diperbolehkan mengirimkan salam kepada perempuan salehah yang bukan mahramnya, selama tidak dikhawatirkan menimbulkan dampak buruk. Orang yang menerima salam tersebut juga wajib membalasnya.”


Imam an-Nawawi melanjutkan bahwa menurut para ulama mazhab Syafi'i, salam yang disampaikan melalui perantara wajib segera dibalas. Begitu pula apabila seseorang menerima salam melalui surat dari orang yang berada di tempat jauh, maka ia wajib langsung membalasnya secara lisan setelah membaca surat tersebut. Dalam membalas salam, dianjurkan menggunakan ungkapan wa‘alaikassalam atau wa‘alaikumussalam dengan menambahkan huruf wawu (و) di awal. Namun, apabila seseorang hanya mengucapkan ‘alaikumussalam atau ‘alaikum, maka menurut pendapat yang lebih kuat, jawaban tersebut tetap dianggap sah, meskipun ia meninggalkan cara yang lebih utama. Sebagian ulama mazhab Syafi'i berpendapat bahwa jawaban seperti itu belum mencukupi. Imam an-Nawawi juga menjelaskan bahwa berbagai persoalan mengenai salam telah dibahas secara lengkap dalam bab tersendiri.


Salah Satu Wanita Terkemuka di Dunia

Rasulullah SAW bersabda:


عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ ".


“Dari Abu Musa RA berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Manusia yang sempurna dari kalangan laki-laki sekian banyak, namun tidak ada manusia sempurna dari kalangan wanita melainkan Maryam bin ti 'Imran, Asiyah, dan istrinya Fir'aun. Dan keutamaan 'Aisyah terhadap wanita-waita lain bagaikan keutamaan makanan tsarid dibandingkan seluruh makanan lainnya.” (Tsarid adalah sejenis makanan yang terbuat dari daging dan roti yang dibuat bubur dan berkuah). (HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibn Majah dan Ahmad).


Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa hadis tentang kesempurnaan Maryam binti Imran dan Asiyah, istri Fir'aun, serta keutamaan Aisyah RA menunjukkan tingginya kedudukan perempuan-perempuan tersebut dalam Islam. Mengenai kesempurnaan Maryam dan Asiyah, para ulama berbeda pendapat. Sebagian memahami kesempurnaan tersebut sebagai tanda kenabian, sedangkan sebagian lainnya memaknainya sebagai kesempurnaan dalam keimanan dan berbagai sifat mulia, tanpa harus mencapai derajat kenabian. Adapun keutamaan Aisyah RA yang diumpamakan dengan tsarid menunjukkan kedudukan istimewa beliau, sebagaimana tsarid merupakan makanan yang sangat dihargai masyarakat Arab karena kelezatan, kemudahan penyajian, dan kemudahannya untuk dimakan. Namun, Ibnu Hajar menegaskan bahwa perumpamaan tersebut tidak secara mutlak menunjukkan bahwa Aisyah lebih utama daripada seluruh perempuan dalam segala aspek. Sebab, terdapat riwayat-riwayat lain yang juga menjelaskan keutamaan Khadijah dan Fatimah RA. Dengan demikian, hadis tersebut menunjukkan keistimewaan Aisyah RA tanpa harus meniadakan keutamaan perempuan mulia lainnya.[7]


Sebetulnya masih sangat banyak keutamaan Bunda Aisyah RA. Sangatlah panjang tulisan ini jika penulis mengutarakan semuanya.


Dari beberapa keistimewaan Sayyidah Aisyah RA yang telah dipaparkan, terdapat sejumlah hikmah dan keteladanan yang dapat kita ambil, di antaranya:

  • Pentingnya menuntut ilmu. Keluasan ilmu Sayyidah Aisyah RA mengajarkan bahwa setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu.
  • Mengamalkan dan menyebarkan ilmu. Aisyah RA tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga mengajarkannya kepada orang lain. Hal ini mengingatkan kita bahwa ilmu akan semakin bermanfaat apabila diamalkan dan disampaikan kepada sesama.
  • Besarnya peran perempuan dalam Islam. Keteladanan Aisyah RA membuktikan bahwa perempuan memiliki kedudukan dan peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam menjaga dan menyampaikan ajaran Islam.
  • Meneladani akhlak dan kemuliaan para sahabat. Keistimewaan Aisyah RA yang mendapat salam dari Malaikat Jibril menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
  • Menghargai keutamaan setiap individu. Perumpamaan keutamaan Aisyah RA dengan makanan tsarid mengajarkan bahwa setiap orang dapat memiliki keistimewaan tersendiri. Oleh karena itu, memuliakan seseorang tidak harus dengan merendahkan keutamaan orang lain.

Semoga dengan mengenal sebagian keistimewaan Sayyidah Aisyah RA, kecintaan kita kepada beliau dan keluarga Rasulullah SAW semakin bertambah, serta mendorong kita untuk meneladani ilmu, akhlak, dan pengabdian beliau terhadap agama Islam.


Wallahu A'lam.


 


[1] Sulaiman An-Nadwi, Sirah As-Sayyidah Aisyah Umml Mu’minin RA, dar Al-Qalam, Damaskus, 1424 H/2003 M, Hal. 38.


[2] Ibid, Hal. 40.


[3] Ibn Abdil Bar, Al-Isti’ab Fi Asma Al-Ashab, Dar Al-Fikr, Beirut, 1426 H/2006 M, Juz 2, Hal. 548.


[4] Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar Al-Asqallani, Al-Ishabah Fi Tamyiz As-Shahabah, Dar Al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 1415 H/1995 M, Hal. 223.


[5] Muhammad Ibn Ahmad Ibn Utsman Adz-Zahabi, Siyar Alam An-Nubala’, Muassasah Ar-Risalah, Beirut, 1402 H/1982 M, Juz 2, Hal. 139.


[6] Al-Imam An-Nawawi, Shahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi, Al-Mathba’ah Al-Mishriyyah Bil Azhar, Cairo: 1349H/1930 M, JUz 15, Hal. 211.


[7] Lihat Fath Al-Bari oleh Ibn Hajar Al-Asqallani, Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1379 H), jilid 6, hlm. 515–516.

Bagikan Konten Melalui :