Imam Emosional
Kisah Nabi Nuh AS menyadarkan kita bahwa kesalehan tidak bisa terwariskan secara otomatis. Pendidikan agama tidak boleh dikalahkan dengan yang lainnya. Simak artikel berikut dengan cermat!
Ketika mendengar kata emosional, banyak orang membayangkan seseorang yang mudah marah atau sulit mengendalikan diri. Padahal, tidak semua emosi bermakna negatif. Ada emosi yang lahir dari kelembutan hati, rasa takut kepada Allah, dan kecintaan mendalam terhadap kebenaran. Inilah makna emosional yang terlihat pada seorang imam yang hatinya tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an.[1]
Kisah ini bukanlah rekaan. Penulis mengalaminya ketika mengikuti shalat Subuh berjamaah di sebuah masjid. Saat itu, seorang imam yang tampaknya merupakan seorang hafizh Al-Qur’an memimpin shalat dengan bacaan yang tenang dan penuh penghayatan. Pada rakaat pertama, beliau membaca Surah Hud yang mengisahkan perjuangan Nabi Nuh AS dalam berdakwah kepada kaumnya.
Bacaan sampai pada ayat 42 ketika Nabi Nuh memanggil anaknya yang berada di luar bahtera:
يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ.
"Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir." (QS. Hud: 42)
Saat membaca ayat tersebut, suara sang imam mulai berubah. Beliau terdiam sejenak, mencoba menahan tangis. Bukan karena lupa hafalan, tetapi karena hatinya sedang merasakan beratnya kisah seorang ayah yang melihat anaknya berada dalam bahaya, namun tidak mampu menyelamatkannya.
Ketika melanjutkan ayat berikutnya, tangisan beliau semakin terdengar. Sang imam merasakan bagaimana Nabi Nuh tetap memanggil anaknya dengan penuh kasih sayang, meskipun anak tersebut memilih jalan yang salah dan menolak ajakan ayahnya untuk menjadi golongan orang-orang beriman yang diselamtkan oleh Allah. Hingga akhirnya gelombang memisahkan mereka dan anak Nabi Nuh termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Pada rakaat kedua, sang imam melanjutkan ayat tentang Nabi Nuh yang mengadu kepada Allah mengenai anaknya. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh masih memiliki kasih sayang dan berharap keselamatan bagi anaknya. Namun Allah menjelaskan bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh hubungan keluarga, melainkan oleh iman dan rahmat-Nya.
Dari kisah tersebut, terdapat pelajaran besar bahwa hidayah berada dalam kekuasaan Allah. Orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik, membimbing, mengingatkan, dan mendoakan anak-anaknya, tetapi tidak dapat memaksakan hati mereka untuk beriman.
Setelah shalat selesai, sang imam meminta maaf kepada jamaah karena tangisannya. Beliau menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang Nabi Nuh sangat menyentuh hatinya, terutama tentang ujian seorang ayah yang menghadapi anak yang tidak mau mengikuti jalan iman dan kebenaran.
Setelah salat selaesai dilakanakan, sang imam berdiri dan berpesan kepada seluruh jama’ah:
"Jagalah anak-anak kita. Didiklah mereka dengan iman, tauhid, syariat, dan akhlak. Jangan pernah merasa bahwa karena kita orang baik, maka anak kita pasti akan mengikuti jalan kita. Nabi Nuh adalah seorang nabi, tetapi Allah menguji beliau dengan seorang anak yang tidak beriman."
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa banyak orang tua sibuk mempersiapkan masa depan anak dalam bentuk pendidikan, harta, dan kenyamanan hidup, tetapi terkadang lupa menyiapkan bekal yang paling penting: agar anak tetap dekat dengan Allah.
Tangisan sang imam bukanlah kelemahan, melainkan tanda bahwa hatinya hidup bersama Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca oleh lisan, tetapi untuk direnungkan oleh hati dan diaplikasikan dengan amalan atau perbuatan nyata.
Wallahu A’lam.
Foto : Magnific
[1] https://kbbi.web.id/emosional diakses 23 Juli 2026 pukul 05.35 WIB.