Harap-harap Cemas

Dalam berdakwah, sampaikanlah secara seimbang, jangan hanya menakut-nakuti dengan hukuman saja, Simak artikel berikut ini agar kita kembali teringat kasih sayang Alah yang begitu besar.

Da'i Ambassador

Allah bukan hanya menganugerahkan akal pada manusia. Agar hidup terasa lebih indah dan berwarna, Allah juga menciptakan perasaan. Adakalah seorang manusia merasa gembira, bahagia, sedih, takut dan perasaan lainnya. Jika hanya akal saja yang dimiliki, bisa kita bayangkan betapa kaku dan lelahnya hidup kita, yang ada hanyalah bagaimana cara mempertahankan hidup dan ingin selalu berada dalam puncak kejayaan saja. 

Film atau pertunjukan teater yang disukai adalah yang alur ceritanya beragam kan? Biasanya, film diawali dengan alur datar, dilanjutkan dengan konflik dan ceritanya ditutup dengan happy ending atau bahkan sebaliknya. Betapa jemunya kita jika menonton film yang alur ceritanya hanya bahagia saja atau sebaliknya, membosankan!

Sekilas, banyak orang yang ingin kehidupannya terus bahagia, tanpa ada cemas dan kesedihan sedikitpun. Tidak ada yang salah dalam hal ini dan wajar saja tentunya, namanya juga keinginan dan harapan. Tapi tetap saja, dalam kehidupan ini manusia tidak bisa lari dari kehendak Allah. Rasa cemas, takut dan sedih tentu pernah dirasakan oleh manusia yang paling bahagia sekalipun. Tidakkah kita ingat dengan firman Allah bahwa dalam kehidupan itu ada ujian? Firman Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155).

Jadi, kebahagian, kesedihan dan kecemasan memang selalu ada dalam kehidupan manusia.

Ada salah satu yang menarik dalam konsep agama kita, yaitu الخوف و الرجاء  (al-khauf war ar-raja’). Khauf artinya takut atau cemas, sedangkan raja’ artinya harapan. Konsep ini berbicara mengenai dosa dan ampunan Allah. 

Sebelum kita berbicara lebih jauh, sebaiknya kita simak salah satu ayat berikut ini:

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ.

"Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S. Al-Maidah: 98).

Pemahaman mudah untuk ayat ini adalah, satu sisi Allah adalah Tuhan Yang Menyiksa bagi yang menentang perintah-Nya dan memasukannya ke neraka. Satu sisi yang lain adalah Tuhan Yang Maha Mengampuni bagi hamba yang bertaubat kepada-Nya. Bagi yang bertaubat, bukan hanya ampunan saja yang diperoleh, tapi juga surga tempatnya karena kasih sayang-Nya.

Ayat ini merupakan salah satu motivasi yang sangat kuat bagi orang yang pesimis dengan ampunan Allah. Ayat ini juga menjadi isyarat bahwa kasih sayang Allah lebih besar dari kemarahan-Nya.

Tulisan ini mengajak pembaca untuk mengingat beberapa kisah populer yang bersumber dari hadis-hadis Nabi SAW. Diantaranya adalah, takutnya seorang hamba kepada Allah menjadi penyebab dia diampuni. Berikut kisahnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ قَالَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَلْ حَسَنَةً قَطُّ لأَهْلِهِ إِذَا مَاتَ فَحَرِّقُوهُ ثُمَّ اذْرُوا نِصْفَهُ فِي الْبَرِّ وَنِصْفَهُ فِي الْبَحْرِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ فَلَمَّا مَاتَ الرَّجُلُ فَعَلُوا مَا أَمَرَهُمْ فَأَمَرَ اللَّهُ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيهِ وَأَمَرَ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَا فِيهِ ثُمَّ قَالَ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ مِنْ خَشْيَتِكَ يَا رَبِّ وَأَنْتَ أَعْلَمُ ‏.‏ فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُ ‏"‏ ‏.‏

"Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang lelaki yang tidak pernah melakukan kebaikan kepada keluarganya berkata: Jika aku mati, bakarlah aku, kemudian sebar separuhnya di darat dan separuhnya di laut. Demi Allah, jika Allah berkuasa atasnya, Dia pasti akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak akan disiksa oleh seorang pun di antara penduduk dunia. Ketika lelaki itu mati, mereka melakukan apa yang diperintahkannya. Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan apa yang ada di dalamnya dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan apa yang ada di dalamnya. Kemudian Dia bertanya kepadanya: Mengapa kamu melakukan ini? Ia menjawab: Karena takut kepada-Mu, ya Rabb, dan Engkau lebih mengetahui. Maka Allah mengampuninya." (HR. Muslim). 

Hadis diatas harus dipahami secara komprehensif. Titik berat hadis ini adalah takut kepada Allah menjadi salah satu sebab diampuni. Harusnya orang ini diazab dengan keras karena selama hidupnya dia tidak memiliki amal kebaikan. Terlebih dia berwasiat agar nanti jasadnya dibakar.

Hadis ini bukan diartikan untuk meniru perbuatan orang tersebut. Bisa jadi, dia berwasiat untuk melakukan hal itu karena dia berkeyakinan kuat dosanya tidak akan diampuni oleh Allah. Atau bisa jadi karena ketakutan yang luar biasa, akalnya bisa terganggu, sehingga dia tidak memikirkan apa yang dia katakan dan lakukan. Dalam situasi seperti itu, , seseorang mungkin akan memegang sesuatu yang sangat kecil dengan harapan itu bisa membantu, meskipun sebenarnya tidak ada manfaatnya, seperti orang yang hampir kehilangan akal karena ketakutan. Atau ada juga kemungkinan bahwa orang ini belum menerima dakwah. Wallahu A’lam.

Selain kisah yang disampaikan oleh Rasulullah ini, tentu kisah lainnya. Masih ingatkah kita dengan kisah orang yang membunuh 99 orang dan akhirnya genap menjadi 100 orang. Kemudian dia bertaubat dan ingin memperbaiki dirinya dengan cara berkumpul dengan orang-orang saleh. Dalam perjalan menuju tempat tersebut, tibalah ajalnya dan kemudian wafat. Orang ini diampuni oleh Allah padahal baru bertaubat dan belum sempat melakukan amal kebaikan yang banyak.

Sebagai penutup, tentu kita ingat syair Abu Nawas yang begitu masyhur:

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً

Ilahi lastulil firdausi ahla

"Ya Tuhanku, hamba tidak pantas menjadi penghuni surga."


وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

Wala aqwa ala naril jahimi
"Namun hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka."


فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ

Fahab lii taubatan waghfir dzunubi
"Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku."

فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْم

Fainnaka ghofiruz dzambil adzimi
"Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar."

Wallahu A'lam.

Foto : Freepik

Bagikan Konten Melalui :