Akhirat Merupakan Prioritas

Harta dapat menjadi bekal sedekah, jabatan menjadi sarana menegakkan keadilan, ilmu menjadi jalan memberi manfaat, dan teknologi menjadi media menyebarkan kebaikan. Dengan demikian, sikap zuhud pada masa kini bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menjaga agar dunia tetap berada di tangan dan tidak menguasai hati. Ingin lanjut? Simak artikel berikut dengan cermat!

Da'i Ambassador

Prioritas berarti sesuatu yang didahulukan atau dianggap lebih penting daripada yang lain. Maka, ketika kita mengatakan bahwa “akhirat adalah prioritas”, maksudnya adalah kehidupan akhirat harus menjadi tujuan utama dalam menjalani kehidupan di dunia.


Dunia bukan kita tinggalkan dan tidak penting. Kita tetap bekerja, mencari nafkah, belajar, berusaha, dan menjalankan berbagai aktivitas sebagaimana mestinya. Namun, semua itu hendaknya dilakukan dengan tetap mengingat akhirat. Jangan sampai apa yang kita lakukan di dunia justru menjadi sebab penyesalan ketika kelak kita kembali kepada Allah SWT.


Dengan bahasa yang sederhana, setiap langkah dalam kehidupan seharusnya kita pertimbangkan: apakah pekerjaan yang kita lakukan halal, apakah perkataan kita menyakiti orang lain, apakah perbuatan kita diredai Allah, dan apakah semua yang kita kerjakan membawa kebaikan bagi kehidupan akhirat kita. Dengan demikian, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat kita menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.


Tentang pentingnya mendahulukan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. telah banyak mengingatkan kita. Salah satu penegasan yang sangat jelas dapat kita temukan dalam Q.S. Al-A‘la ayat 16–17. Dalam ayat tersebut, Allah SWT. mengingatkan bahwa manusia sering kali lebih memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat jauh lebih baik dan lebih kekal.


Dalam menjelaskan ayat 16–17 Surah al-A’la ini, penulis mencoba menggunakan pendekatan tafsir isyari, yaitu metode penafsiran yang mengungkap dimensi spiritual suatu ayat dengan tetap berpijak secara kokoh pada prinsip-prinsip syariat. Tafsir isyārī tidak hanya menjelaskan makna lahiriah ayat, tetapi juga menggali pesan batin yang dapat membimbing pembaca dalam membangun kesadaran dan memperbaiki kehidupan spiritualnya. Melalui pendekatan ini, Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai sumber pengetahuan dan hukum, tetapi juga sebagai cermin jiwa yang membantu manusia mengenali kecenderungan batinnya, memperbaiki akhlaknya, dan mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.


Penulis  coba mengakses tafsir Lathaif Al-Isyarat atau yang lebih dikenal dengan Tafsir Al-Qusyairi.[ 1 ]


Ayat 16:


بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ

“Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia,”


 Ayat 17:


وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

“padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”


Jika melihat terjemah ayat 16, yang dimaksud mengutamakan kehidupan dunia adalah orang-orang kafir. Terjemahan diatas adalah terjemah tafsiriyah oleh Kementerian Agama RI. Terjemah tafsiriyah tentu menyisipkan tafsir dalam terjemah literal. Namun, untuk ayat 16 ini, penulis berpendapat bahwa ayat ini tidak terbatas untuk orang kafir saja, tapi seiapa saja yang mengutamakan kehdipan dunia dan mengalahkan kehidupan akhirat .


 Berikut penafiran ayat 16 dan 17 oleh Al-Qusyairi:[2]


 Ayat 16:


تميلون إليها فتقدّمون حظوظكم منها على حقوق الله تعالى.


“Kalian cenderung kepada kehidupan dunia, lalu mendahulukan bagian dan kesenangan kalian darinya daripada hak-hak Allah Ta‘ala.”


Ungkapan al-Qusyairi, تَمِيلُونَ إِلَيْهَا فَتُقَدِّمُونَ حُظُوظَكُمْ مِنْهَا عَلَى حُقُوقِ اللهِ تَعَالَى, berarti bahwa manusia cenderung dan terpikat kepada kehidupan dunia, kemudian mendahulukan bagian, kepentingan, dan kesenangan pribadinya daripada memenuhi hak-hak Allah Swt. Kata حظوظكم menunjuk pada segala sesuatu yang disukai oleh nafsu, seperti harta, kedudukan, pujian, kenyamanan, dan kepuasan diri. Adapun حقوق الله mencakup ketaatan, ibadah, pelaksanaan kewajiban, menjauhi larangan, dan mendahulukan keridaan Allah. Dengan demikian, al-Qusyairi tidak mencela dunia secara mutlak, tetapi mencela sikap batin yang menjadikan keuntungan duniawi sebagai prioritas utama hingga kewajiban kepada Allah diabaikan.


Di zaman sekarang, kecenderungan tersebut dapat terlihat ketika seseorang terlalu sibuk mengejar karier, kekayaan, popularitas, atau pengakuan di media sosial sehingga melalaikan salat, mengabaikan kejujuran, merugikan orang lain, atau menghalalkan berbagai cara demi keuntungan. Dunia modern memang menuntut manusia bekerja dan berkompetisi, tetapi ayat ini mengingatkan agar kepentingan ekonomi dan ambisi pribadi tetap berada di bawah nilai-nilai ketuhanan. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh, melainkan kemampuan menggunakan semua itu secara halal, bertanggung jawab, dan sesuai dengan hak-hak Allah serta kemaslahatan sesama.


 Ayat 17:


والآخرة للمؤمنين خير وأبقى من الدنيا لطلّابها.

“Dan akhirat bagi orang-orang beriman lebih baik dan lebih kekal daripada dunia bagi orang-orang yang mencarinya.”


Ungkapan Al-Qusyairi di atas menunjukkan bahwa akhirat bagi orang beriman lebih baik dan lebih kekal daripada dunia bagi para pencarinya. Dalam pandangan sufistik, dunia bukan hanya tempat tinggal yang fana, tetapi juga segala sesuatu yang membuat hati berpaling dari Allah. Adapun akhirat melambangkan tujuan hati yang kembali kepada-Nya, mencari keridaan-Nya, dan merindukan kedekatan dengan-Nya. Orang yang mengejar dunia memperoleh sesuatu yang cepat hilang, sedangkan orang yang mencari Allah memperoleh ketenteraman yang tidak bergantung pada harta, pujian, atau kedudukan. Karena itu, kebaikan akhirat tidak hanya terletak pada kenikmatan surga, tetapi juga pada kemurnian hati, manisnya iman, dan kebahagiaan bertemu dengan Allah.


Di zaman sekarang ini, manusia sering mengukur keberhasilan melalui kekayaan, jabatan, popularitas, dan pengakuan sosial. Semua itu dapat berubah dengan cepat dan tidak pernah benar-benar memuaskan dahaga jiwa. Pesan al-Qusyairi mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah. Harta dapat menjadi bekal sedekah, jabatan menjadi sarana menegakkan keadilan, ilmu menjadi jalan memberi manfaat, dan teknologi menjadi media menyebarkan kebaikan. Dengan demikian, sikap zuhud pada masa kini bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menjaga agar dunia tetap berada di tangan dan tidak menguasai hati.


Wallahu A’lam.

Foto : Magnific

-------------------

[1] Abū al-Qāsim ‘Abd al-Karīm ibn Hawāzin al-Qusyairī al-Naisābūrī (376–465 H/986–1072 M) adalah ulama mazhab Syafi‘i, teolog Asy‘ari, dan tokoh tasawuf yang hidup di Naisabur. Ia dikenal melalui karya-karyanya, terutama  al-Risālah al-Qusyairiyyah  dalam bidang tasawuf dan Laṭā’if al-Isyārāt  dalam bidang tafsir bercorak sufistik-isyārī.


[2] Abū al-Qāsim ‘Abd al-Karīm ibn Hawāzin al-Qusyairī al-Naisābūrī , Latha’if Al-Isyarat, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1428 H, Juz 3, Hal. 415.

Bagikan Konten Melalui :